rihlah tazkiyah


Tazkiyah kotak hijau




Pagi yang tak lagi buta ketika panas dan cahayamu berbaur jadi satu memberikan penerang bagii mata-mata yang tak lagi mengandalkan listrik untuk melihat bisa melihat apa yang harus mereka cari untuk dilihat..begitu juga aku, tapi ini sungguh sangat melelahkan.
Menelusuri bumi yang begitu luas,tapi sejatinya hanya setitik tancapan paku di kayu dari semua jagad raya ini..,itupun harus mengerahkan semua tenaga pikiran, jiwa ragaku untuk menelusurinya..hanya Allah yang maha kuasa yang bisa memberikan segala apa yang di butuhkan oleh hambanya, termasuk aku..yang butuh kekuatan untuk bisa berjalan.
Sebuah hal yang sering kali di renungi ketika melintasi sebuah pemandangan yang biasa di raba mata, peminta-minta, orang tua berjalan membawa beban-beban yang harus di jualnya sambil menahan panasnya pancaran surya,orang-orang berjalan dengan sombongnya memamerkan kekayaan yang sejatinya kalau dia tahu itu Cuma titipan,entahlah….semoga dia siap ketika Allah mengambilnya mendadak.
Setengah dari jalan raya sudah bukan hak untuk kendaraan yang melaju, tapi hak bagi kendaran yang berhenti menjalankan mesinnya, entah itu mesin buatan manusia atau mesin manusia itu sendiri, ataupun itu tidak minta upah atau mengharapkan di beri upah. Ketika memandang peluh-peluh yang mengalir dari dahi seorang bapak tua yang menjaga kendaraan berhentinya itu, pikiranku hanya satu, ya Allah..sebeginikah mudahnya membelanjakan uang hasil peluh orang tuaku, tapi aku berdoa semoga uang yang ku habiskan berada di jalan yang benar dan lurus. Bagaimana tidak, kebutuhanku hanya berkutat di kebutuhan bertahan hidup dan kitab yang  orang biasa menyebutnya kuning tapi menurutku itu lebih condong oranye….
Menurut pengakuan dari jam di alat komunikasiku sebenarnya waktu mengisi tenaga ke dua kalinya sudah tiba 2 jam yang lalu, tapi melihat bapak tua yang berpeluh sambil menunggangi kendaraan yang bermesinkan dirinya sendiri itu yang kemudian merogohkan tangannya ke tas mini bawaannya, dan mengejutkanku, ternyata sebuah kotak hijau dengan sederhana isinya untuk sekedar memenuhi tenaganya kembali. Mencuri-curi perhatian aku tak mengalihkan penglihatanku ke yang lain hanya pada bapak itu seorang, sesuap- demi sesuap..aku merasakan kelaparan dan kedahagaannya, aku merasakan keringatnya, aku merasakan tangannya yang mengeras karena usahanya yang terlampau keras, sebersit dan bertamabah sebersit hingga aku berada di posisi dimana mataku tak bia di kedipkan aku teringat orang tuaku yang berjuang keras membiayai pendidikan anaknya demi melihat aku menjadi lebih baik dan berguna bagi seluruh dunia, yang berusaha untuk memberikan kata-katanya yang terbaik untuk memotivasiku agar tak lupa apa tujuanku,..beliaulah orang yang paling tegar, tabah, dan kuat di dunia ini,mengesampingkan apa yang ia butuhkan demi aku anakmu…semoga jalanku saat ini benar-benar bisa di pertahankan ayah..ibu..,Allah tahu yang terbaik untuk aku, dan aku senantiasa akan mendo’akan yang terbaik untuk kalian berdua, orang yang selalu aku kagumi sepanjang masa, terimaksaih atas segala apa yang telah di berikan,maafkan atas segala apa yang aku berikan yang mungkin menyusahkanmu.
Semua orang yang berlalu lalang di jalan itu mulai menyadari sesuatu yang aneh dari diriku,  Sejurus kemudian tangan besar temanku memegang pundakku, membuyarkan lamunanku yang berbuah deraian air mata, segera ku usap sebelum orang-orang di jalan itu mengulurkan bantuan untuk mengusap air mata yang membanjiri wajahku ini, terimakasih bapak sosokmu dan kotak hijau yang kau bawa telah memotivasiku untuk menjadi yang paling baik dari harapan orangtuaku,terimakasih sekali lagi kotak hijau kau tak akan ku lupakan. Semenit kemudian jalan-jalanku menapaki bumi berhenti dan berganti menapaki makanan-makanan yang ada di jajaran etalase warung makan padang..dan tak terasa, kenapa aku masih merasakan air hangat  mengalir di pipiku…
(RAra)

Komentar