Waktu terus
berputar.seperti roda pedati yang tak pernah henti.menapaki setiap jalannya
meskipun itu penuh dengan batu,lumpur dan dengan seribu tanggaa.seprti halnya
hidup ini,akan selalu berputar selama nafas ini masih berhembus,dan tubuh ini
masih bisa merasakan betapa nikmatnya ni’mat Allah yang telah diberikan.
Kupandangi
tetesan hujan yang ada dikaca mobil.berseluncur lincah dengan mudahnya.tanpa
ada beban.berurut urutan satu dengan yang lain.saling
beradu,berkejaran,membasahi kaca mobil yang yang tengah melaju.Hatiku hanyut
dalam buaiannya.ia selalu berselancar dengan mudahnya.tak peduli itu terjal,tak
perduli itu tempat yang kotor,jorok,atau apapun.dia tetap mengalir ketempat
yang rendah,menuju satu titik.itulah air.
Tetesan-tetesan
itu mengingatkanku saat dulu kecil.aku sering memandangi tetesan hujan
dijendela kamarku.berharap ada satu tetes saja yang menyapaku.tersenyum,lalu
say hallo padaku.ah betapa senangnya jika hal itu bisa terjadi.air
menyapaku,mengajakku bicara,dan menyanyikan lagu untukku.
Tik..tik..tik..bunyi hujan,diatas genting
Ah,jika itu nyata,pasti suaranya terdengar sangat nyaring
seklai.dan aku pasti sangat bahagia jika bisa bernyanyi bersama dengan teetesan
hujan itu.meskipun,jika aku dipaksa utuk berkhayal sperti itu lagi sekrang,aku tak kan pernah
mau.mana mungkin sih,air bisa bicara? Itu mustahil.dan jika aku berani
mengatakan bahwa air itu bisa bicara,berarti jiwaku sudah tidak waras lagi.
…
Mabil terus
melaju.lamunanku masih terus meninggi.aku teringat lagi,ibu selalu menyuruhku
tidur,menyuruhku menutup jendela,karena takut aku masuk angin
“aya nak,ditutup aja pintunya.nanti kamu masuk angin”
Aku hanya menggeleng.bagiku tetesan itu adalah permata yang
indah dan berharga.tapi,mengapa ibu menyuruhku meninggalkan pemandangan yang
indah iut? Ibu aneh.pikirku saat itu.dan setelah ibu lelah
memaksaku,akhirnya ibu menarikku dan dan
menggendongku dan mendudukkanku
dipangkuannya.
“ibu akan ceritakan sesuatu kepadamu sayang.sebuah dongeng
yang sangat terkenal”kata ibu
Mataku bebinar.senang sekali jika mendengar ibu akan
mendongeng.dongeng yang selalu mengantarkan tidurku.
…
Mobil
berhenti,tepat didepan sebuah gedung.tidak terlalu besar.cukup untuk 100
orang.warna catnya sudah mulai pudar,bangunannya tua,dibangun sekitar abad 1
masehi.sudah sangat lama.belum sampai kepintu masuk,air mata ini mulai menetes
.sedikit demi sedikit terus mengalir beriringan,sama seperti tetesan hujan yang
turun dijendela.hampir aku menangis tersedu sedu.namun,mas hamzah menenangkanku.dia
menyodorkanku tisu.kulap air mata ini.hingga sampai di sebuah taman,air mataku
semakin deras mengalir.taman yang sangat indah,penuh bunga,dan burung-burung
yang beterbangan dengan lincahnya.tapi keindahan itu menjadikanku sedih dan membuat dadaku sesak.
“nay,itu dia disana” kata mas hamzah
Mataku tertuju pada sebuah pohon.didekatnya berdiri seorang
wanita yang tengah asyik duduk sendiri.
“lihat nay,boneka darimu tak pernah beliau lepaskan”
“ia ,mas benar.tapi kapan kira-kira ibu bisa pulang?aku ingin
lagi berkumpul dengan ibu.aku ingin ibu
pulang”
“sabar nay,kamu harus bersabar.sampai kejiwaan ibu pulih
kembali.”
Air mataku terus mengalir deras. Seperti hujan deras dibulan
desember. Yang kadang sampai berhari-hari membasahi bumi pertiwi.oh ibu,semoga
Allah segers menyembuhkanku.
Pelipur
hati melepas lelah setealh muhadarah (penNurs)

Komentar
Posting Komentar