pelipur hati


HUJAN DESEMBER




            Waktu terus berputar.seperti roda pedati yang tak pernah henti.menapaki setiap jalannya meskipun itu penuh dengan batu,lumpur dan dengan seribu tanggaa.seprti halnya hidup ini,akan selalu berputar selama nafas ini masih berhembus,dan tubuh ini masih bisa merasakan betapa nikmatnya ni’mat Allah yang telah diberikan.
            Kupandangi tetesan hujan yang ada dikaca mobil.berseluncur lincah dengan mudahnya.tanpa ada beban.berurut urutan satu dengan yang lain.saling beradu,berkejaran,membasahi kaca mobil yang yang tengah melaju.Hatiku hanyut dalam buaiannya.ia selalu berselancar dengan mudahnya.tak peduli itu terjal,tak perduli itu tempat yang kotor,jorok,atau apapun.dia tetap mengalir ketempat yang rendah,menuju satu titik.itulah air.
            Tetesan-tetesan itu mengingatkanku saat dulu kecil.aku sering memandangi tetesan hujan dijendela kamarku.berharap ada satu tetes saja yang menyapaku.tersenyum,lalu say hallo padaku.ah betapa senangnya jika hal itu bisa terjadi.air menyapaku,mengajakku bicara,dan menyanyikan lagu untukku.
Tik..tik..tik..bunyi hujan,diatas genting
Ah,jika itu nyata,pasti suaranya terdengar sangat nyaring seklai.dan aku pasti sangat bahagia jika bisa bernyanyi bersama dengan teetesan hujan itu.meskipun,jika aku dipaksa utuk berkhayal  sperti itu lagi sekrang,aku tak kan pernah mau.mana mungkin sih,air bisa bicara? Itu mustahil.dan jika aku berani mengatakan bahwa air itu bisa bicara,berarti jiwaku sudah tidak waras lagi.
                                                                        …
            Mabil terus melaju.lamunanku masih terus meninggi.aku teringat lagi,ibu selalu menyuruhku tidur,menyuruhku menutup jendela,karena takut aku masuk angin
“aya nak,ditutup aja pintunya.nanti kamu masuk angin”
Aku hanya menggeleng.bagiku tetesan itu adalah permata yang indah dan berharga.tapi,mengapa ibu menyuruhku meninggalkan pemandangan yang indah iut? Ibu aneh.pikirku saat itu.dan setelah ibu lelah memaksaku,akhirnya  ibu menarikku dan dan menggendongku dan  mendudukkanku dipangkuannya.
“ibu akan ceritakan sesuatu kepadamu sayang.sebuah dongeng yang sangat terkenal”kata ibu
Mataku bebinar.senang sekali jika mendengar ibu akan mendongeng.dongeng yang selalu mengantarkan tidurku.
                                                                                    …
            Mobil berhenti,tepat didepan sebuah gedung.tidak terlalu besar.cukup untuk 100 orang.warna catnya sudah mulai pudar,bangunannya tua,dibangun sekitar abad 1 masehi.sudah sangat lama.belum sampai kepintu masuk,air mata ini mulai menetes .sedikit demi sedikit terus mengalir beriringan,sama seperti tetesan hujan yang turun dijendela.hampir aku menangis tersedu sedu.namun,mas hamzah menenangkanku.dia menyodorkanku tisu.kulap air mata ini.hingga sampai di sebuah taman,air mataku semakin deras mengalir.taman yang sangat indah,penuh bunga,dan burung-burung yang beterbangan dengan lincahnya.tapi keindahan itu menjadikanku sedih dan  membuat dadaku sesak.
“nay,itu dia disana” kata mas hamzah
Mataku tertuju pada sebuah pohon.didekatnya berdiri seorang wanita yang tengah asyik duduk sendiri.
“lihat nay,boneka darimu tak pernah beliau lepaskan”
“ia ,mas benar.tapi kapan kira-kira ibu bisa pulang?aku ingin lagi  berkumpul dengan ibu.aku ingin ibu pulang”
“sabar nay,kamu harus bersabar.sampai kejiwaan ibu pulih kembali.”
Air mataku terus mengalir deras. Seperti hujan deras dibulan desember. Yang kadang sampai berhari-hari membasahi bumi pertiwi.oh ibu,semoga Allah segers menyembuhkanku.

  Pelipur hati melepas lelah setealh muhadarah   (penNurs)                   

Komentar